Rabu, 25 Juli 2012

KEUTAMAAN SYAHRU RAMADHAN


1. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malm yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa'."  (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)
2. Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah bersabda:
"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a. Allah melihat berlomba-lombanya kama pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmatAllah di bulan ini. " (HR.Ath-Thabrani,  dan  para  periwayatnya terpercaya). , Al-Mundziri berkata: "Diriwayatkan olehAn-Nasa'i dan Al-Baihaqi, keduanya ari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar darinya."
3.  Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda:
"Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),'Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, 'pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. "Beliau ditanya, 'Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar' Jawab beliau, 'Tidak. Namun ovang yang beramal tentu dibevi balasannya jika menyelesaikan amalnya.' " (HR. Ahmad)'" Isnad hadits tersebut dha'if, dan di antara bagiannya ada nash-Nash lain yang memperkuatnya.




Dikutif dari Yayasan Al-Sofwa

Kamis, 14 Juni 2012

Risalah untuk Kekasih Tercinta


Wahai kekasih,


Tak usah lagi engkau pertanyakan tentang rasa yang aku punya
Tak berbatas langit dan bumi tuk bercerita
Seperti juga tentangmu yang tak pernah lekang dan hilang

diantara waktu yang berpacu
Biarkan saja suara-suara berseteru hingga hingar menjadi

hening
jika aku dapat berbicara pada rembulan, bintang, mentari, awan, dan pelangi, akan ku minta pada mereka untuk menyampaikan betapa besar rasa cinta dan sayang ku untukku.
wahai kekasihku...
entah bagaimanakah lagi caranya agar engkau bisa tahu dan mengerti tentang apa yang aku rasakan.

Ini tentang  kamu dan aku



Wahai kekasih,
Pada setiap denyut nadiku ada yang berdesir hingga palung hati
Kau yang bersemayam disana diam-diam mengisi sunyiku
Tak pernah cukup waktu rasakan irama detakmu di dadaku
Hingga ku reguk malam menjadi pagi dan siang menjadi senja...
tak cukup banyak waktu yang aku rasakan bersamamu..
ingin aku habiskan sisa hidupku selalu bersamamu selamanya...
hingga akhir waktuku.

ini tentang rinduku untukmu

Wahai kekasih,
Tak akan ada yang mampu bersembunyi dari kuasa-Nya
Adamu disetiap doa-doa ku yang tak pernah putus
Digenggam eratku biarkan samar menjadi terang
Tersenyumlah kekasih, untuk setiap asa yang tersisa
untuk setiap rasa suka dan duka yang bersemayam dalam dadaku ini.
merasuk ke dalam jiwa,,, tak tak tergantikan dengan kata-kata...
Ini tentang kamu untukku

Semoga kau damai bersamaNya
Terbanglah dan menarilah di taman surgaNya
Jalanan menuju Ka'bah kini penuh dengan bunga
Disini, di bukit inilah kita akan bertemu nanti
Jika memang Dia ciptakan cintamu untukku
jika memang engkau adalah bagian dari jiwaku..
jika memang engkau adalah tulang rusukku...
maka pergilah,, karena engkau akan kembali lagi...

Nyanyikan aku senandung pilu
Yang tumbuh subur di sanubari ku
Untuk redam rasa bahagia ku
Sebab ini bukan saat ku,

Aku ingin terbang,
Menyertaimu menata bintang
Iringi langkahmu temani rembulan
Jelajahi malam dengan segala kenangan

Ohh...
Kau dawai pilu jiwa yang meradang
Saat jatuh ragaku lemah hanya selintas pandang
Saat aku berdiri pada gerbang kegamangan
Menatapmu berlalu dan seketika hilang

Kini kau dalam barisan takdir
Di mana indah dalam pelukan Tuhan

Tak ada yang bisa kau ambil dariku
Meski hanya ini, satu-satunya sisa cinta
Cinta yang sedemikian sederhana
Cinta yang biasa namun penuh makna
Untukmu selamanya...
aku akan senantiasa mengingatmu dalam do'aku
namamu akan selalu menghiasi ruang indah di hatiku..
selalu menjadi bunga indah penghias taman di Hatiku...
engkau akan selalu aku kenang...
karena engkau adalah cerita indah,, 
cinta yang hadir dalam hidupku..


Kamis, 24 Mei 2012

Awas Demam Riya..!!!


Riya’ merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari demam berdarah atau aids sekalipun. Sulit membedakan ibadah jaman sekarang yang tidak bercampur riak

Suatu ketika, di yaumil akhir, berlangsung pengadilan terhadap tiga orang laki-laki. Yang pertama kali diadili adalah orang yang gugur sebagai syahid. Ia kemudian dipanggil oleh Allah. Kepadanya kemudian diperlihatkan amal perbuatannya. Ia pun mengakui perbuatannya ketika berperang membela agama hingga akhirnya gugur sebagai syahid.

Kemudian Allah bertanya: “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkannya (mati syahid).”

“Aku berperang demi (mendapat) ridha-Mu hingga aku gugur di medan jihad,” jawab lelaki itu.

“Kamu berdusta,” sergah Allah.

“Kamu berperang agar dikatakan pemberani dan sungguh kamu telah mendapatkannya,” sambung Allah lagi.

Kemudian Allah memerintahkan agar orang tersebut diseret dan dilemparkan ke dalam neraka.

Selanjutnya Allah memanggil orang yang kedua, yakni seorang lelaki yang tekun menuntut ilmu dan mengajarkannya. Ia juga rajin membaca al-Qur’an. Seperti yang pertama, ia pun diperlihatkan amal perbuatannya. Setelah ia mengenalinya, Allah bertanya: “Apa yang telah kamu perbuat dengannya (menuntut ilmu)?”

“Saya menuntut ilmu, mengajarkannya kepada yang lain dan membaca al-Qur’an demi Engkau, ya Allah,” jawab lelaki itu.

“Kamu berdusta!” kata Allah berfirman.

“Kamu menuntut ilmu agar dibilang orang pandai dan kamu membaca al-Qur’an agar dikatakan sebagai qori yang bagus (bacaannya), dan sungguh kamu telah memperolehnya,” ungkap Allah.

Kemudian Allah memerintahkan agar orang tersebut diseret dan dilemparkan ke neraka.

Berikutnya Allah mengadili orang yang ketiga yakni seorang lelaki yang dilapangkan dan dikaruniai Allah kekayaan yang melimpah. Kepadanya diperlihatkan amal perbuatannya. Iapun mengenalinya. Lalu Allah bertanya: “Apa yang kamu perbuat terhadap harta bendamu?”

Lelaki itu menjawab: “Saya tak pernah melewatkan kesempatan menafkahkan harta benda di jalan-Mu dan itu saya perbuat demi Engkau, wahai Tuhanku”. Allah berfirman: “Kamu berdusta! Kamu tidak melakukan itu semua kecuali dengan pamrih agar kamu dibilang sebagai dermawan. Dan kamu telah mendapatkan semua yang kamu inginkan."

Selanjutnya Allah memerintahkan agar orang tersebut diseret dan dilemparkan ke neraka.

Niat yang Menentukan

Amal baik belum tentu bernilai baik sebelum diketahui niatnya. Bisa saja manusia memberi gelar pahlawan kepada seseorang yang memiliki keberanian dan tanggung jawab yang besar dalam membela agama dan negaranya, akan tetapi Allah yang Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi. Maka Allah jualah yang akan memberikan penilain-Nya tersendiri. Allah tidak menilai seseorang dari yang zhahirnya saja, tapi juga dari yang tersembunyi yaitu niat atau motivasinya.

Bisa jadi seseorang dihormati karena kedalaman ilmu dan keluasan wawasannya. Tapi di sisi Allah, seorang ulama baru dianggap bernilai bila ia ikhlas dalam mencari ilmu dan tulus ketika mengajarkan dan menyebarluaskannya. Ketika ada motivasi lain, sekecil apapun, pasti terdeteksi oleh ke-Mahatahuan-Nya. Allah berfirman:

Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan jika kamu menampakkan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 284)

Demikian pula halnya dengan orang kaya yang dermawan, belum tentu kedermawanannya berkenan di hadapan Allah. Boleh jadi kemurahannya dalam memberi digerakkan oleh niat-niat tertentu yang dapat merusak pahala sadaqahnya. Orang-orang yang menerima sumbangannya tidak mengetahui niat orang tersebut, tapi Allah saw selalui memonitor gerak hati seseorang. Dia menilai tidak sekadar dari lahirnya, tapi lebih penting lagi adalah niatnya. Itulah sebabnya, niat dalam ajaran Islam menempati posisi sentral dan sangat menentukan. Rasulullah saw bersabda:

Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung kepada niat, dan sesungguhnya tiap tiap orang memperoleh sesuatu sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ialah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrah karena ingin memperoleh keduniaan atau untuk mengawini seorang wanita, maka hijrahnya adalah kea rah yang ditujunya tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sabda Rasulullah di atas dilatarbelakangi oleh pengaduan seseorang yang menyampaikan bahwa di antara orang-orang yang hijrah ke Madinah menyusul hijrahnya Rasulullah saw ada seseorang yang berhijrah karena ingin mengawini seorang wanita yang bernama Ummu Qais. Pada mulanya lelaki itu ingin tetap tinggal di Makkah, akan tetapi karena Ummu Qais yang hendak dinikahinya mengajukan syarat bahwa ia mau dinikahi jika lelaki itu hijrah ke Madinah, maka akhirnya sang lelaki itu terpaksa turut hijrah demi kekasihnya.

Dalam kehidupan sehari-hari ada contoh yang sederhana. Di siang hari yang panas, seorang lelaki masuk ke mesjid. Secara lahiriyah perbuatan itu sangat terpuji. Akan tetapi siapa tahu niat yang tersembunyi dalam hatinya. Bisa jadi ia masuk ke mesjid dengan niat untuk istirahat. Jika niatnya seperti itu, maka ia akan memperoleh yang diniatkannya. Ia terhindar dari sengatan matahari dan terlepas dari rasa penat. Lain halnya jika ia meniatkan untuk i’tikaf. Boleh jadi ia mendapatkan kedua-duanya, yaitu pahala sekaligus istirahat yang cukup.

Dalam kenyataannya, banyak sekali perbuatan manusia yang motivasinya campur aduk antara ikhlas dan riya’. Misalnya, orang yang menunaikan ibadah haji seringkali niatnya tidak semata-mata untuk ibadah, tapi jauh sebelum keberangkatannya mereka sudah membuat rencana untuk membeli perhiasan, makanan, pakaian dan oleh-oleh lainnya untuk disebarkan kepada kerabatnya di tanah air.

Demikian pula halnya dengan orang yang menuntut ilmu, banyak yang niatnya tidak untuk memperoleh ridha Allah, tapi agar kelak dihormati dan disanjung masyarakat sebagai orang yang berilmu. Atau agar kelak mendapat pekerjaan yang baik, pangkat dan jabatan mentereng serta berkuasa di tengah masyarakatnya.

Seseorang yang shalat malam (tahajjud) mungkin saja niatnya murni, semata-mata ingin bertaqarrub dengan Allah swt. Akan tetapi ada pula seseorang yang menjalankan shalat malam karena niat 'daripada tidak bisa tidur' atau karena dia sedang berjaga, daripada bengong.

Secara syar’i, ibadahnya orang yang disebutkan di atas tetap sah dan tidak batal, akan tetapi kurang afdol. Ibadahnya sah, tapi kurang sempurna karena beribadah kepada Allah menuntut adanya kemurnian niat (ikhlas) semata-mata karena Allah. Al-Qur’an menandaskan:

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka kecuali supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 2-3)

Riya’ merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari demam berdarah atau aids sekalipun. Itulah sebabnya Rasulullah saw sangat khawatir dengan penyakit ini. Beliau takut ummatnya terjerumus pada penyakit yang beliau sebut sebagai syirik yang tersamar itu. Beliau bersabda:

"Sesungguhnya yang saya takuti menimpa atas kamu ialah syirik kecil (syirkul ashghar). Para sahabat bertanya, 'apakah yang dimaksud dengan syirik kecil itu, ya Rasulallah?' Nabi menjawab: 'Riya’, (yakni) ketika manusia datang untuk meminta balasan atas amal perbuatan yang mereka lakukan. Maka Tuhan berkata kepada mereka : 'Pergilah kamu menemui orang-orang yang karena mereka kamu beramal (riya') di dunia niscaya kamu akan sadar apakah kamu memperoleh balasan kebaikan dari mereka?”.

(Hamim Thohari/ Hidayatullah), (diambil dari rubrik “Hikmah” Majalah Hidayatullah, edisi April 2004)

Minggu, 20 Mei 2012

Selamat Hut Kota Curup yang ke 132 Tahun 2012


Curup adalah Ibukota Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, Indonesia. Curup merupakan kota terbesar ke-2 di Bengkulu. Curup merupakan daerah penghasil beras, kopi dan sayur-sayuran utama di provinsi Bengkulu, yang hasilnya dikirim hingga ke Palembang, Jambi, Padang, Lampung, dan Jakarta. Beberapa tempat wisatanya yang terkenal adalah Suban Air Panas, pematang danau, Gunung Kaba, Air Terjun di Kepala Curup, dan situs-situs prasejarah. Daerah ini juga dikenal sebagai salah satu tempat tumbuhnya Rafflesia arnoldi. Pasar yg agak modern adalah Pasar Bang Mego. Sebelum di bangun Pasar Bang Mego, pada tahun 1970-an dikenal dengan sebutan Pasar Bawah, untuk membedakan dengan pasar yang lain yaitu Pasar Atas, yang terletak dekat Terminal angkutan serta Pasar Tengah yang telah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Curup merupakan sebuah kota di daerah pegunungan bukit barisan dan dikelilingi oleh Bukit Kaba dan Bukit Daun. Penduduk aslinya adalah suku Rejang, namun banyak juga masyarakat dari suku lain seperti Jawa, Lembak, Minang, dan Serawai. Kota ini pernah menjadi ibukota Propinsi Sumatera selatan pada masa revolusi dibawah kepemimpinan Gubernur A.K. Gani. Curup adalah kota kecil berudara dingin, segar dan sejuk yang terhampar di lembah dataran tinggi Sumatera. Adanya asimilasi kebudayaan daerah dengan orang pendatang, kini menjadikan kota Curup sebagai kota heterogen dari berbagai etnis di Indonesia.(http://id.wikipedia.org/wiki/Curup,_Rejang_Lebong) Begitu banyak harapan dari masyarakat Rejang Lebong, seiring semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan terknologi, semakin modern nya masa kini. banyak harapan masyarakat kepada pemerintah Kabupaten Rejang Lebong pada khususnya untuk dapat terus memajukan Kota ini,,, untuk dapat memperhatikan kebutuhan rakyat kecil, pedagang, petani, pelajar, mahasiswa, pengusaha, dan lain sebagainya. masyarakat berharap agar sektor pertaniandapat diperhatikan terutama dalam pemasaran hasil pertanian dari Rejang lebong, dan juga kebutuhan Pupuk organik agar lebih memihak kepada masyarakat. seiring bertambahnya usia Kota curup Masyarakat juga berharap agar bidang Pendidikan di Rejang lebong bisa lebih maju,,, bisa bersaing dengan pendidikan di kota-kota lainnya. begitu banyak siswa-siswi dan pemuda-pemudi berprestasi dari Rejang Lebong, baik dibidang pendidikan maupun olahraga namun luput dari perhatian pemerintah,,, sudih kiranya pemerintah dapat lebih mengutamakan para putra daerah kota ini... Curup kota IDAMAN, (Indah dan Aman) semoga ini tidak hanya menjadi selogan semata, harapan masyarakat pemerintah dapat menjamin keindahan dan kenyamanan di kota ini,, baik dari segi keamanan daerah dari kelompok2 orang yang mencari keuntungan pribadi (Korupsi/Perampokan). Juga keindahan Kota, Pemeliharan tempat-tempat Wisata, dan keindahan tata Kota.. semoga Di usia Ke 132 kota Curup akan menjadi semakin maju,,, dapat bersaing dengan daerah lain,,, dapat Lebih berprestasi di segala bidang. dapat menjadi kota pariwisata, sebagai tujuan para wisatawan Lokal dan wisatawan asing. InsyaAllah. "HILANG DILAMAN, MATI DITENGAH UMEAK" Kesusahan di negeri sendiri, karena sikap yang bodoh tidak mampu mengelola potensi yang ada. semoga kedepannya Masyarakat kota curup dapat lebih makmur,,, dapat lebih maju. harapan masyarakat agar di kabupaten rejang lebong ini dapat kembali tercipta lapangan pekerjaan untuk masyarakat rejang lebong. Selamat Hut Kota Curup yang ke 132 Tahun 2012 Semoga menjadi Kita semua senantiasa di Rahmati Allah SWT. aamiin ya robb al-aalaamiin.....

Sabtu, 10 Desember 2011

Makalah Filsafat Pendidikan

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

A. Perkembangan Filsafat Pendidikan Islam pada Masa Rasulullah dan Pada Masa Khulafaur Rasyidin
Perkembangan awal kemunculan filsafat pendidikan islam meliputi masa kehidupan nabi Muhammad SAW dan masa pemerintahan Khulafah Al-Rasyidin. Periode awal perkembangan islam ini dibedakan dari periode berikutnya dengan pertimbangan bahwa selama masa kekuasaan nabi dan para penggantinya (Khulafah Al-Rasyidin), kekuasaan islam masih berpusat di wilayah Arab.
Pemikiran mengenai filsafat pendidikan pada periode awal ini merupakan perwujudan dari kandungan ayat-ayat Al Quran dan hadist yang keseluruhannya membentuk kerangka umun ideologi islam. Dengan demikian pemikiran mengenai pendidikan yang kita lihat dalam Al Quran dan Hadist mendapatkan nilai ilmiahnya. Dalam sejarah islam, pada masa nabi filsafat pendidikan islam sudah barang tentu tidak sempurna dan sistematis bahkan secanggih sekarang ini., karena pada masa itu masih bersifat sembunyi-sembunyi yang dilakukan di Dar-al-Arqam.
Di kota Mekkah menurut Mahmud Yunus pendidikan islam berorientasi kepada beberapa hal yaitu:
1. Pendidikan keagamaan
2. Pendidikan akliyah dan ilmiah
3. Pendidikan akhlak dan budi pekerti
4. Pendidikan jasmani
Disamping it diajarkan juga tentang Al Qur’an. Karena Al Qur’an merupakan intisari dari sumber pokok dari ajaran islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.
Pemikiran filsafat tentang pendidikan pada masa Rasulullah SAW ini terfokus pada upaya mengklasifikasi nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan dengan menjadikan perikehidupan Rasulullah sebagai contoh. Filsafat pendidikan Al Qur’an itu sendiri menurut Muhammad Fadhil Al-Jamaly yang dikutip Hasan Langgulung meliputi lima masalah utama yaitu :
1. Tujuan pendidikan dalam Al Qur’an
2. Pandangan Al Quran terhadap manusia
3. Pandangan Al Qur’an terhadap masyarakat
4. Pandangan Al Qur’an terhadap alam
5. Pandangan Al Qur’an terhadap Khalik
Di Kota Madinah Rasulullah tetap menjalankan aktifitas pendidikan yang dilakukan di masjid. Masjid dapat dikatakan sebagai madrasah yang berukuran besar yang pada permulaan sejarah islam dan masa-masa selanjutnya adalah merupakan tempat menghimpun kekuatan islam baik dari segi fisik maupun mental.
Ketika rasulullah wafat aktivitas pendidikan tetap berjalandan dilakukan oleh Khulafa al Rasyidin. Pada masa ini pendidikan berjalan dengan baik bahkan tumbuh denan pesat sebab pada masa ini kekuasaan islam telah merambah keberbagai wilayah antara lain Iraq, Syiria, Palestina, Mesir dan Persia. Pada masa Khulafa al-Rasyidin aktivitas pendidikan disamping bertumpu perhatian yang serius pada pembelajaran, pengajian dan penelaah Al Qur’an dan Hadits.


B. Perkembangan Filsafat Pendidikan Islam pada Masa Bani Abbasiyah
1. Sejarah Lahirnya Dinasti Bani Abbasiyah
Pada periode pertama, pemerintah bani abbas mencapai keemasannya. Secara politis, para Khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agam sekaligus. Disisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun, stelah periode iniberakhir pemerintah bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.
2. Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam
Pada masa bani Abbasiyah, kebudayaan dan peradaban sudah lebih maju bila dibandingkan dengan bani Umaiyah. Pendidikan baik ilmu naqli (agama) seperti munculnya ilmu tauhid, hadis,dan ilmu-ilmu agama lainnya. Demikian pula pengetahuan umum (ilmu naqli) berkembang pula dengan pesatnya seperti filsafat yunani telah diterima oleh umat.
Pada permulan bani Abbasiyah ilmu pengetahuan dan pendidikan berkembang dengan sangat pesat, sehingga terlahir sekolah-sekolah yang tidak terhitung banyaknya. Tersebar dari kota sampai ke desa-desa. Anak-anak dan pemuda-pemuda berlomba-lomba menuntut ilmu pengetahuan, melawat kepusat pendidikan, meniggalkan kampung halamanya karena cinta akan ilmu pengetahuan.
Pada masa nabi Muhammad, masa Khulafaurrasyidin, dan bani Umaiyah tujuan pendidikan hanya satu saja, keagamaan semata. Mengjar dan belajar krena Allah dan mengharapkan keridhoanya. Sedangkan pada masa bani Abbasiyah itu telah bermacam-macam karena pengaruh masyarakat pada masa itu. Tujuan itu dapat disimpulkan sebagai berikut;
1. Tujuan Keagamaan dan Akhlak
2. Tujuan Kemasyarkatan
3. Tujuan Pendidikan
4. Tujuan Kebendaan
Pada masa itu, sedikit banyak hampir sama dengan pendidikan bani Umaiyah dan masa sebelumnya. Pada masa Abbasiyah pendidikan sudah mulai berkembang yang mana sekolah-sekolah terdiri dari bebrapa tingkatan yang sudah sejakawal kebangkitan Islam, yaitu;
a. Tingkat sekolah rendah, namanya kuttab, lembaga pendidikan terendah untuk tempat belajar anak-anak mengenai dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan. Selai kuttab ada juga anak-anak yang belajar di rumah, istana, toko dan dipinggir-pinggir pasar.
b. Tingkat sekolah menengah, yaitu dimasjid dan dimajlis sastra dan ilmu pengetahuan sebagi sambungan pelajaran di kuttab. Selain itu biasanya pula pelajaran yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah untuk menuntut ilmu kepad seseorang atau kepada seorang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pengjarannya berlansung dimasjida atau durumah ulama yang bersangkutan.
3. Tingkat Sekolah Tinggi /perguruan Tinggi.
Lembaga Ini berkembang Pada Masa Bani Abbasiyah. Dengan berdirinya perpustakaan dan akademi baitul Hikmah di bagdad. Perputakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas karena disamping terdapat-kitab-kitab disan juga orng dapat mebaca, menulis dan berdiskusi.Rencana pembelajaran dari tingkah itu terdiri dari dua jurusan yaitu jurusan ilmu-ilmu agama dan bahsa Arab (ilmu naqliyah) dan jurusan ilmu-ilmu hikmah (filsafat atu ilmu aqliyah).
4. Sistem dan Metodologi Pengajaran
Sistem metodologi pengajaran pada masa ini yaitu seorang demi seorang, dan belum berkelas seperti sekarang ini, jadi gur harus belajar-mengajar murid-murid itu dengan bergantian yang mana cara ini dilaksankan pada tingkat rendah dan tingkat menengah.
Sedangkan pada tingkat tinggi, dengan berkelompok dan berhalaqah. Guru duduk diatas tikar dan di depannya duduk pelajar dengan berhalqah (berkeliling). Apabila gur menghafal pelajaran/ dituliskannya sebagai diktat, maka dibacakannya pelajaran itu secara perlahan-lahan, para pelajar menuliskan apa yang dibaca oleh gurunya, seperti pelajaran imla (dekte) masa sekarang, selesai itu guru menerangka hal-hal yang sulit dari pelajaran itu.
Keterangan itu dituliskan pelajar dipinggir kertas pada akhir pelajaran Guru mengukang membawa pelajaran itu atau disuruhnya seorang pelajar membacanya untuk membenarkan apabila terdapar kesalahan. Apabila telah tamat ilmu yang diajarkan, lalu guru menandatangani beberapa naskah yang ditulis oleh pelajar. Kadang-kadang guru memberikan ijazah kepada pelajar itu bahwa ia berhak mengajar dan meriwyatkan kepada pelajar-pelajar yang lain. Dalam sitem halqah pelajar diperbolehkan bertanyatentang hal-hal yang sulit dan pelajar diperbolehkan halqoh apabila pengajaran tidak meuaskan baginya.
C. Perkembangan Filsafat Pendidikan Islam pada Masa Bani Umayyah
1. Lembaga dan pusat pendidikan Islam
Pada zaman ini masjid menjadi semcam lembaga sebagai pusat kehidupan dan kegiatan ilmu terutama ilmu-ilmu agama. Seorang ustadz duduk dalam masjid dan murid duduk di sekelilingnya mendengarkan pelajarannya. Kadang dalam satu masjid terdapat beberapa halaqoh dengan ustadz dan pelajaran berbeda-beda. Kadang pula ustadz menggunakan rumahnya untuk mengajar. Pada zaman ini belum ada sekolah atau gedung khusus sebagai tempat belajar. Beberapa ustadz pada masa ini adalah Abdullah bin Abbas, Hasan Basri, Ja'far As-Shidiq dan lain-lain.
Sedangkan kota-kota yang menjadi pusat kegiatan pendidikan ini masih seperti pada zaman Khulafaur rosyidin yaitu, Damaskus, Kufah, Basrah, Mesir dan ditambah lagi dengan pusat-pusat baru seperti Kordoba, Granada, Kairawan dan lain-lain.
2. Materi bidang ilmu pengetahuan.
Materi/ilmu-ilmu agama yang berkembang pada zaman ini dapat dimasukan dalam kelompok Al-Ulumul Islamiyah yaitu ilmu-ilmu Al-Qur'an, Al-Hadits, Al-Fiqih, At-Tarikh, Al-Ulumul Lisaniyah dan Al-Jughrofi. Sedangkan Al-Ulumul Islamiyah dapat dibagi menjadi tiga bagian :
• Al-Ulumul Syar'iyah, yaitu ilmu-ilmu agama Islam.
• Al-Ulumul Lisaniyah, yaitu ilmu-ilmu untuk memastikan bacaan Al-Qur'an, menafsirkan dan memahami Hadits.
• At-Tarikh wal Jughrofi.
3. Gerakan Filsafat
Gerakan filsafat muncul di akhir zaman bani Umayyah untuk melawan pemikiran Yahudi dan Nasrani. Pemikiran teologis dari agama Kristen sudah berkembang lebih dulu sebelum datangnya Islam dan masuk ke lingkungan Islam secara sengaja untuk merusak akidah Islam. Karena itu timbul dalam Islam pemikiran yang bersifat teologis untuk menolak ajaran-ajaran teologis dari agama Kristen yang kemudian disebut Ilmu Kalam.
Ilmu kalam dalam perkembangannya menjadi ilmu khusus yang membahas tentang berbagai macam pola pemikiran yang berbeda dari ajaran Islam sendiri, karena dalam Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang memerintahkan untuk membaca, berfikir, menggunakan akal dan sebagainya yang kesemuanya mendorong umat Islam, terutama para ahlinya untuk berfikir mengenai segala sesuatu guna mendapatkan kebenaran dan kebijaksnaan.
D. Perkembangan Filsafat Pendidikan Islam Pada Masa Modern
Pada zaman modern pemikiran filsafat telah mengalami pembagian yang jelas dan tegas. Pembagian filsafat menjadi tiga bagian yaitu logika, metafisika dan estetika. Jadi, dari pendapat tersebut dikatakan bahwa filsafat merupakan kegiatan berfikir untuk mencari kebenaran mengenai dari segala sesuatu yang ada baik abstrak maupun kongkret. Namun denagn perkembangan zaman filsafat itu mengalami kemajuan, dimana tidak hanya soal-soal kerohanian dan pengetahuan berkenaan tentang etika kepribadian.
Salah satu pelopor pembaruan dalam dunia Islam Arab adalah suatu aliran yang bernama Wahabiyah yang sangat berpengaruh di abad ke-19. Pelopornya adalah Muhammad Abdul Wahab (1703-1787 M) yang berasal dari nejed, Saudi Arabia. Pemikiran yang dikemukakan oelh Muhammada Abdul Wahab adalah upaya memperbaiki kedudukan umat Islam dan merupakan reaksi terhadap paham tauhid yang terdapat di kalangan umat Islam saat itu. Paham tauhid mereka telah bercampur aduk oleh ajaran-ajaran tarikat yang sejak abad ke-13 tersebar luas di dunia Islam
Disetiap negara Islam yang dikunjunginya, Muhammad Abdul Wahab melihat makam-makam syekh tarikat yang bertebaran. Setiap kota bahkan desa-desa mempunyai makam sekh atau walinya masing-masing. Ke makam-makam itulah uamt Islam pergi dan meminta pertolongan dari syekh atau wali yang dimakamkan disana untuk menyelesaikan masalah kehidupan mereka sehari-hari. Ada yang meminta diberi anak, jodoh disembuhkan dari penyakit, dan ada pula yang minta diberi kekayaan. Syekh atau wali yang telah meninggal. Syekh atau wali yang telah meninggal dunia itu dipandang sebagai orang yang berkuasa untuk meyelesaikan segala macam persoalan yang dihadapi manusia di dunia ini. Perbuatan ini menurut pajam Wahabiah termasuk syirik karena permohonan dan doa tidak lagi dipanjatkan kepada Allah SWT
Masalah tauhid memang merupakan ajaran yang paling dasar dalam Islam . oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Muhammad Abdul Wahab memusatkan perhatiannya pada persoalan ini. Ia memiliki pokok-pokok pemikiran sebagai berikut.
a. Yang harus disembah hanyalah Allah SWT dan orang yang menyembah selain dari Nya telah dinyatakan sebagai musyrik
b. Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut paham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukan kepada Allah, melainkan kepada syekh, wali atau kekuatan gaib. Orang Islam yang berperilaku demikian juga dinyatakan sebagai musyrik
c. Menyebut nama nabi, syekh atau malaikat sebagai pengantar dalam doa juga dikatakan sebagai syirik
d. Meminta syafaat selain kepada Allah juga perbuatan syrik
e. Bernazar kepada selain Allah juga merupakan sirik
f. Memperoleh pengetahuan selain dari Al Qur’an, hadis, dan qiyas merupakan kekufuran
g. Tidak percaya kepada Qada dan Qadar Allah merupakan kekufuran.
h. Menafsirkan Al Qur’an dengan takwil atau interpretasi bebas juga termasuk kekufuran.
Untuk mengembalikan kemurnian tauhid tersebut, makam-makam yang banyak dikunjungi dengan tujuan mencari syafaat, keberuntungan dan lain-lain sehingga membawa kepada paham syirik, mereka usahakan untuk dihapuskan. Pemikiran-pemikiran Muhammad Abdul Wahab yang mempunyai pengaruh pada perkembangan pemikiran pembaruan di abad ke-19 adalah sebagai berikut.
a. Hanya alquran dan hadis yang merupakan sumber asli ajaran-ajaran Islam. Pendapat ulama bukanlah sumber
b. Taklid kepada ulama tidak dibenarkan
c. Pintu ijtihad senantiasa terbuka dan tidak tertutup
Muhammad Abdul Wahab merupakan pemimpin yang aktif berusaha mewujudkan pemikirannya. Ia mendapat dukungan dari Muhammad Ibn Su’ud dan putranya Abdul Aziz di Nejed. Paham-paham Muhammad Abdul Wahab tersebar luas dan pengikutnya bertambah banyak sehingga di tahun 1773 M mereka dapat menjadi mayoritas di Ryadh. Di tahun 1787, beliau meninggal dunia tetapi ajaran-ajarannya tetap hidup dan mengambil bentuk aliran yang dikenal dengan nama Wahabiyah.
Puncak daripemikiran mengenai filsafat pendidikan islam di periode modern terangkum dalm konferensi pendidikan islam sedunia. Penyelenggaraan konferensi ini dapat di nilai sebagai peristiwa yang bersejarah dalam kaitannya dengan perkembangan pemikiran para ahli pendidikan muslim. Selain itu, komperensi tersebut juga merupakan ajang kesadaran para ahli pendidikan dan cendikiawan muslim tentang perlunya diwujudkan suatu bentuk konsep pendidikan Islam yang dapat disepakati bersama.
Dengan demikian gagasan yang dimunculkan dalam komperensi dunia tentang pendidikan Islam tersebut dititik beratkan kepada usaha untuk mengembalikan ajaran islam secara murni dan sekaligus menyesuaikan dengan kebuthan dan perkembangan zaman modern.
















DAFTAR PUSTAKA

Zuhairimi, Dkk. 1995. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara
Nata, Abuddin. 2001. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu
http/ madura-elasukton. Blogspot com./ 2010/ 11 Pendidikan Pada Masa Bani Abbasiyah
Jalaludin dan Abdullah. 2007. Filsaafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Group
http://motipasti.wordpress.com/tag/Pendidikan-Islam-Masa-Nabi-Muhammad-SAW/

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My link

Thanks